Senin, 29 Oktober 2018

EUFOPHORIA BELAJAR FILSAFAT


Refleksi - Kuliah Prof. Marsigit
Atin Argianti (18709251001/ PM A)
Selasa, 2 Oktober 2018

Pak Marsigit dan Kami sama-sama meningkatkan euphoria, dari euphoria material, euphoria formal, euphoria normatif, sampai euphoria spiritual. Euphoria spiritual itu tidak terlihat dalam mata dan tidak terdengar dalam telinga. Maka kami dianjurkan untuk membaca elegi-elegi dalam blog Pak Marsigit. Elegi adalah sepi dalam ramai, ramai dalam sepi.
Kami yang diberi tugas untuk membuat pertanyaan karena Pak Marsigit telat datang ke kelas karena ada rapat dengan Pak Rektor. Pak Marsigit mempersilahkan kami untuk menyampaikan euphoria tentang menjawab pertanyan-pertanyaan yang telah dibuat. Euphoria yang dimaksud Pak Marsigit adalah respon yang berlebih dalam menjawab pertanyaan, misalnya membutuhkan waktu yang lama dalam menjawab atau perlu energi yang banyak untuk memikirkan jawabannya.
Apakah euphoria muncul karena rasa takut? Euphoria dilabelkan positif dari voting di kelas, sedangkan rasa takut dilabelkan dengan negative dari voting. Tetapi rasa takut tidak selalu itu negative karena bisa saja takut karena melakukan dosa. Jadi pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan kontradiksi yang jawabannya iya atau tidak. Filsafat itu penjelasannya bagaimana kita memikirkannya.
Tertimpa oleh sifat-sifat adalah sebenar-benar hidup yang tertimpa sifat satu dengan sifat-sifat yang lain. Jika tidak ada ketertimpaan sifat maka tidak akan kehidupan. Misalkan saja, kita bernafas, hidung kita telah tertimpa oleh oksigen, selain itu paru-paru juga tertimpa oksigen. Doa juga begitu, sehingga kita tidak boleh mendoakan yang jelek-jelek. Contoh yang lain adalah memandang seseorang, merindukan seseorang. Jika tidak ada ketertimpaan maka tidak ada hidup. Secara sosial psikologi, pertanyaan apakah euphoria muncul karena rasa takut mengandung rasa protes.
Bagaimana kita berpikir dalam filsafat? Yang namanya berfilsafat adalah seberapa jauh bagaimana penjelasannmu dan bagaimana uraianmu bukan pertanyaannya. Pertanyaan bebas. Bagaimana penjelasannya, tidak menjelaskan juga berfilsafat. Bisa saja tidak menjelaskan karena ingin selamat.
Ada hukum sifat, hukum alam yang ada suatu keadaan tertarik atau keadaan tertimpa ditimpa. Keadaan tersebut setiap saat. Tertimpa itu jatuh pada sifat. Jadi sebenar-benarnya hidup adalah sifat.
Pesan dari Pak Marsigit mengenai komentar blog. Syarat berkomentar ikhlas dalam hati dan pikiran. Ikhlas dalam hati bersyukur, istiqomah, tuma’ninah, berniat baik, tidak manipulasi, jangan tergesa-gesa, jangan bingung. Semakin panjang semakin melengkapi dunia ini. Kalau pendek cenderung otoriter. Kematian ada dimana-mana, di darat, di laut, di blog. Ikhlas dalam pikir itu memahami apa yang ditulis dan dibaca.  Seperti yang dikatakan oleh Kyai, “Sebenar-benar saya melihat mayat-mayat berjalan tidak dalam keadaan berdoa”. Dalam filsafat, sebenar-benar saya melihat mayat-mayat tidak dalam keadaan berpikir.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EUFOPHORIA BELAJAR FILSAFAT

Refleksi - Kuliah Prof. Marsigit Atin Argianti (18709251001/ PM A) Selasa, 2 Oktober 2018 Pak Marsigit dan Kami sama-sama meningka...