Refleksi - Kuliah Prof. Marsigit
Atin Argianti (18709251001/ PM A)
Selasa, 2 Oktober 2018
Pak Marsigit dan
Kami sama-sama meningkatkan euphoria, dari euphoria material, euphoria formal,
euphoria normatif, sampai euphoria spiritual. Euphoria spiritual itu tidak
terlihat dalam mata dan tidak terdengar dalam telinga. Maka kami dianjurkan
untuk membaca elegi-elegi dalam blog Pak Marsigit. Elegi adalah sepi dalam
ramai, ramai dalam sepi.
Kami yang diberi
tugas untuk membuat pertanyaan karena Pak Marsigit telat datang ke kelas karena
ada rapat dengan Pak Rektor. Pak Marsigit mempersilahkan kami untuk
menyampaikan euphoria tentang menjawab pertanyan-pertanyaan yang telah dibuat.
Euphoria yang dimaksud Pak Marsigit adalah respon yang berlebih dalam menjawab
pertanyaan, misalnya membutuhkan waktu yang lama dalam menjawab atau perlu
energi yang banyak untuk memikirkan jawabannya.
Apakah euphoria
muncul karena rasa takut? Euphoria dilabelkan positif dari voting di kelas,
sedangkan rasa takut dilabelkan dengan negative dari voting. Tetapi rasa takut
tidak selalu itu negative karena bisa saja takut karena melakukan dosa. Jadi
pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan kontradiksi yang jawabannya iya atau
tidak. Filsafat itu penjelasannya bagaimana kita memikirkannya.
Tertimpa oleh
sifat-sifat adalah sebenar-benar hidup yang tertimpa sifat satu dengan
sifat-sifat yang lain. Jika tidak ada ketertimpaan sifat maka tidak akan
kehidupan. Misalkan saja, kita bernafas, hidung kita telah tertimpa oleh
oksigen, selain itu paru-paru juga tertimpa oksigen. Doa juga begitu, sehingga
kita tidak boleh mendoakan yang jelek-jelek. Contoh yang lain adalah memandang
seseorang, merindukan seseorang. Jika tidak ada ketertimpaan maka tidak ada
hidup. Secara sosial psikologi, pertanyaan apakah euphoria muncul karena rasa
takut mengandung rasa protes.
Bagaimana kita
berpikir dalam filsafat? Yang namanya berfilsafat adalah seberapa jauh
bagaimana penjelasannmu dan bagaimana uraianmu bukan pertanyaannya. Pertanyaan
bebas. Bagaimana penjelasannya, tidak menjelaskan juga berfilsafat. Bisa saja tidak
menjelaskan karena ingin selamat.
Ada hukum sifat,
hukum alam yang ada suatu keadaan tertarik atau keadaan tertimpa ditimpa.
Keadaan tersebut setiap saat. Tertimpa itu jatuh pada sifat. Jadi
sebenar-benarnya hidup adalah sifat.
Pesan dari Pak
Marsigit mengenai komentar blog. Syarat berkomentar ikhlas dalam hati dan
pikiran. Ikhlas dalam hati bersyukur, istiqomah, tuma’ninah, berniat baik,
tidak manipulasi, jangan tergesa-gesa, jangan bingung. Semakin panjang semakin
melengkapi dunia ini. Kalau pendek cenderung otoriter. Kematian ada
dimana-mana, di darat, di laut, di blog. Ikhlas dalam pikir itu memahami apa
yang ditulis dan dibaca. Seperti yang
dikatakan oleh Kyai, “Sebenar-benar saya melihat mayat-mayat berjalan tidak
dalam keadaan berdoa”. Dalam filsafat, sebenar-benar saya melihat mayat-mayat
tidak dalam keadaan berpikir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar