Senin, 29 Oktober 2018

FILSAFAT DALAM PIKIRAN DAN DI LUAR PIKIRAN


Refleksi - Kuliah Prof. Marsigit
Atin Argianti (18709251001/ PM A)
Selasa, 25 September 2018

            Pada perkuliahan filsafat ilmu sore itu, dilakukan tes kedua. Sebelum melakukan tes, Pak Marsigit menerangkan terlebih dahulu tingkatan jawaban yang paling tinggi adalah pasti/ absolut/ mutlak. Kami melakukan tes dengan cara mencongkak. Setelah selesai menjawab tes, Pak Marsigit membahas jawabannya.
            Teori ada, mengada, dan pengada. Mengada itu proses, pengada itu hasil. Ada itu ada dua yaitu fatal dan vital. Filsafat itu meliputi ada dan mungkin ada. Contoh: Handphone ini warnanya apa? Hitam. Kamu dapat mengatakan hitam karena pikiranmu sudah ada handphone saya. Kalau tidak ada pikiran handphone saya di pikiranmu, kamu tidak akan menjawab hitam. Yang tidak ada di pikiranmu berada di luar pikiran. Kemudian Pak Marsigit bertanya, “Apakah Mas Ibrahim tahu nama cucu saya yang paling besar?” Ciri-ciri ada dalam pikiran itu bisa berbicara. Ada di luar pikiran itu bisa disentuh, dilihat, dirasa, dibau. Berarti nama cucu saya tidak ada dalam pikiranmu. Nama cucu saya sekarang kedudukannya sebagai yang mungkin ada di dalam pikiran. Sekarang rasakan kondisi dimana nama cucu saya belum ada dipikiran anda. Bayangkan. Itu adalah keadaan dimana dirimu dalam keadaan pikiranmu tidak ada nama cucu Pak Marsigit yang pertama. Dan bandingkan saat pikiranmu sudah ada nama cucu Pak Marsigit. Dua keadaan dibandingkan, dan rasakan prosesnya ketika nama cucu saya mulai mengada di dalam pikiranmu. Kalau engkau sudah bisa menulis nama cucu saya berarti sudah jadi pengada. Yang tidak ada dipikiran itu ada, yaitu di luar pikiran.
            Salah satu manfaat berfilsafat adalah untuk mensyukuri nikmat ALLOH SWT. Fungsi belajar adalah mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada. Nama queen tadi belum ada menjadi ada. Jadi status nama tadi sudah berubah dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran. Fungsi belajar itu seperti itu. Mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran. Dalam pikiran naik sedikit di dalam hati. Oleh karena itu harus banyak membaca.
Objek flsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada di pikiranmu. Tapi kalau diekstensikan menjadi yang ada dan yang mungkin ada di hatimu. Cara mengetahui yang ada di pikiran dan hati beda domain. Permasalahn filsafat itu Cuma ada dua yaitu memahami apa yang ada di luar pikiran, dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran. Tidak ada di dunia ini bisa menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran. Maka sebenar-benarnya kita tidak bisa menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran kita tetapi hanya bisa berusaha. Bermilyar pangkat bermilyar yang belum anda ketahui itu yang belum anda pikirkan, banyak sekali. Maka sebenar-benar manusia adalah yang mengerti sedikit dan yang mengerti sedikit tidak akan pernah mengerti. Manusia hanya mengerti sedikit tidak pernah bisa mengerti. Manusia tidak boleh sombong karena merasa mengerti banyak hal tetapi boleh berusaha mengerti banyak hal. Tapi kalau mengklaim sudah mengerti banyak hal itu yang menjadi bencana. Mengaku sudah mengerti padahal belum mengerti.
          Objek diformalkan maka objek filsafat itu objek formal dan objek material. Orang mempelajari filsafat menggunakan alat, alatnya itu bahasa. Bukan sembarang bahasa, tetapi bahasa analog. Analog bukan sekedar sama, bukan sekedar kuivalen, tetapi isomorfisma dua dunia. Metode yang digunakan adalah mendalam-dalamkan dan meluas-luaskan sesuai dengan akal pikiran masing-masing bergantung maqomnya.
Formal itu bentuk, material itu substansi. di dunia terdiri dari bentik dan isinya. Bentuk dan substansi dalam filsafat itu bertingkat-tingkat. Wadah selalu ada isinya, tidak ada wadah tanpa isi, tidak ada isi tanpa wadah, ternyata wadah itu isi, isi itu wadah. Wadah analog dengan rumus. Wadah analog dengan fatal, fatal analog dengan takdir. Isi analog dengan vital, vital analog dengan ikhtiar. Unsur dasar dunia adalah takdir dan ikhtiar. Takdir itu terpilih, ikhtiar memilih. Prinsip di dunia ini kontradiksi karena terikat ruang dan waktu.
Kamu itu siapa? Tidak ada orang yang dapat menunjuk dirinya sendiri. Hanya Tuhan sajalah yg bisa sama dengan dirinya sendiri, sama dengan namaNya. Prinsip hidup adalah aku tidak sama dgn aku.  Prinsip di dunia ini adalah kontradiksi karena aku tidak sama dengan aku. Karena terikat oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu kita berpikir profesional, eksperimen. Bagaimana dunia ini kalau tidak ada ruang hanya waktu saja, dunia akan kiamat. Begitu sebaliknya. Jadi fatal dan vital itu potensi semuanya. Manusia, binatang, tumbuhan bisa tumbuh karena ada potensi fatal dan vital.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EUFOPHORIA BELAJAR FILSAFAT

Refleksi - Kuliah Prof. Marsigit Atin Argianti (18709251001/ PM A) Selasa, 2 Oktober 2018 Pak Marsigit dan Kami sama-sama meningka...