Refleksi - Kuliah Prof. Marsigit
Atin Argianti (18709251001/ PM A)
Selasa, 18 September 2018
Perkuliahan
dimulai dengan diawali berdoa. Kemudian Pak Marsigit memberikan pertanyaan
singkat sebanyak 20 butir. Tes tersebut dengan program nulisasi dan dan tugas
komentar blog Pak Marsigit dengan ikhlas dalam hati dan pikiran sebagai tempat
pertaubatan. Setelah itu, mahasiswa membuat satu pertanyaan bebas dibalik
kertas kuis.
Pertanyaan
tersebut antaranya dari Seftika yaitu Bagaimana mencapai pemikiran tingkat dewa?
Pak Marsigit menjawab pertanyaan tersebut kerjakan pikiranmu dan pikirkanlah
pekerjaanmu. Kerjakan pikiranmu itu setengah dan pikirkanlah pekerjaanmu itu
setengah, keberdoalah itu juga setengah, terus menerus. Jadi, setengah tambah
setengah tambah setengah sama dengan satu. Contoh: Pikirkan kuliahmu. Kamu
wajib membayar? Pikirkan cara membayarnya. Yang kamu pikirkan disini cita-cita,
pikiranmu itu master, jalani. Maka jalani pikiran dan memikirkan perjalanan.
Jadi dalam filsafat 1/2 + 1/2 = 1. Bahayanya orang berfilsafat adalah kalau sudah sampai pada tahap jelas. Karena
sudah tidak berpikir lagi. Jadi, filsafat itu kerjakan pikiranmu, pikirkanlah
pekerjaanmu, dan berdoalah. Sebenar-benarnya filsafat adalah berpikir.
Masih dengan
jawaban dari Pak Marsigit, kalau dari sisi waktu, filsafat itu profesional.
Maka waktu itu bisa waktu panjang dan sempit. Waktu itu mengalir karena ada
ruang, waktu itu benda, benda itu ruang, ruamg itu waktu. Sehingga kita
mengalami perjalanan. Sebelum kita menunjukkan, kita akan berubah. Orang yang
ilmunya tinggi orang yang mengaku tidak mengetahui segala sesuatu. Jangankan happiness. Engkau sendiri saja tidak
bisa menunjuk dirimu, apalagi diriku. Kita sendiri tidak mengerti diri kita
sendiri, maka pikiranmu, perasanmu, darahmu, tulangmu adalah kualitas
berikutnya. Yang terlihat itu ikonik, wakil dari duniamu. Kamu mewakili dunia.
Orang mencederai orang itu mencederai dunia, apalagi sampai membunuh. Berarti
dia telah membuat kiamat suatu dunia.
Infinity grafe
yang ditemukan Aristotles. Dunia kita sama besarnya dengan dunia ini. Kita
mewakili dunia. Betapa hebatnya kita. Ingin mengetahui dunia itu langit dan
bumi. Orang yang bodoh menggunakan alat yang sama untuk kondisi yang beda,
sedangkan orang cerdas menggunakan alat sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika
kita mengeleminasi mengambil hak berarti kita meruntuhkan dan membangun dunia.
Jika kita kehilangan hak maka dunia kita runtuh.
Pertanyaan ketiga
dari Agnes, yaitu Filsafat adalah diri kita sendiri, bagaimana agar kita
mengerti diri kita sendiri? Pak Marsigit menjawab ntuk mengerti diri kita
sendiri yaitu kerjakan pikiranmu, pikirkan pekerjaanmu. Doakan apa yang kamu
kerjakan dan doakan apa yang kamu pikirkan. Silahkan tebarluaskan makna
filsafat. Karena filsafat itu siapa saja, apa saja. Sampai ada orang mengatakan
bahwa kitab suci cuma fiksi, jangan dengarkan lagi. Itu menuju sesat, pikiran
yang sesat. Sebingung-bingung pikiran adalah di pikiran, jangan bingung di
hati. Karena hati adalah dasar keyakinan kita. Karena filsafat itu diri kita
sendiri. Sebingung-bingungnya ada di dalam pikiran kita sendiri. Filsafat diri
kita sendiri, spiritualitas adalah diri kita tetapi belum cukup. Cara untuk
membatasi dari godaan adalah dimulai dari pikiran kita sendiri sesuai dengan
keyakinan.
Pertanyaan keempat
dari Fany, bagaimana pandangan filsafat tentang menilai spiritualitas diri
sendiri? Pertanyaan tersebut dijawab Pak Marsigit bahwa jika filsafat adalah
dirimu, spiritualitas adalah dirimu. Jangan coba-coba menggambarkan
spiritualitas dengan dunia. Karena dunia tidak mencukupi. Karena spiritualitas
meliputi dunia dan akhirat. Bagaimana membatasi diri dari godaan? Mulai dari
pikiran, pikiran saja bisa dipakai untuk membatasi godaan, apalagi muka.
Menutupi daripada godaan setan tadi sesuai dengan keyakinannya, lepas daripada
aliran mereka. Dalam agama Islam urusan dibagi dua, urusan dengan Tuhan dan
urusan dengan manusia. Kemudian dibagi tiga. Manusia paling bawah derajatnya memiliki
orientasi bangsa mulut, mata, telinga, perut, itu namanya manusia basar. Naik
diatasnya manusia yang bisa beribadah mengerti Tuhan itu manusia insan. Tapi
kalau manusia basar meningkat menjadi insan itu habluminallah. Manusia yang
paling tinggi itu manusia yang habluminallah dan minannas. Habluminallah dan
minannas itu manusia annas, manusia jejaring sistemik. Jejaring sistemik
simboliknya itu jurnal. Jadi jurnal adalah lambang manusia jejaring sistemik
yang paling tinggi.
Pertanyaan kelima
dari Erma, bagaimana cara mencapai rendah hati yang sesungguhnya? Pak Marsigit
menjawab untuk mencapai rendah hati yang sesungguhnya adalah berusaha dan
berserah diri pada Tuhan. Tidak ada makhluk yang dapat mengalahkan setan selain
pertolongan Tuhan. Sebenar-benarnya manusia adalah dalam keadaan berdoa. Setiap
awalan selalu berdoa mengingat Tuhan, di tengah-tengah selalu istiqomah, di akhiri
dengan dengan baik (khusnul qotimah). Esensi mengakhiri dengan baik adalah
dengan rasa syukur. Padahal akhiran dalam filsafat adalah awalan.
Pertanyaan keenam
dari Yuyun yaitu bagaimana cara mensinkronkan hati dan pikiran, mana yang
didahulukan? Pak Marsigit menjawab menyingkronkan hati dan pikiran, hati roda
yang di bawah, dan pikiran adalah roda atas. Setiap hari itu perasan kita dan
merasakan pikiran kita. Teladannya adalah bumi mengelilingi matahari, tidak
akan sampai pada tempat yang sama selama hidup. Disamping dia berputar pada
porosnya, dia juga mengelilingi matahari. Engkau juga begitu. Disamping saya berputar
pada porosnya (hati dan pikiran), makan sehat setiap hari, bangun tidur,
melakukan hal demikian setiap hari tapi engkau tidak menyadarinya. Jadi sebenar-benar
hidup itu adalah sesuai dengan lintasan bumi. Itu adalah contoh yang diberikan
Tuhan. Kalau orang Yunani mengatakan hermenitika, orang Jawa mengatakan cokro
manggilingan. Jadi perjalanan kita siklik dan linear digabung. Kalau orang Amerika
mereka berpikir hidup linear, cari cari cari,buang buang buang. Sebenar-benar
hidup itu adalah sesuai dengan perintah Tuhan. Pada dasarnya hidup adalah
kontradiksi, dan yang menjadi obat dari penyakit-penyakit filsafat itu adalah
sopan terhadap ruang dan waktu.
Pertanyaan
terakhir dari Widhi, kalau misal masuk surga, apa yang dilakukan? Pak Marsigit menjawab
bahwa urusan spiritual itu agama masing-masing. Cara mengetahui dengan
prediksi, hidup itu pilihan. Tanpa memilih manusia tidak akan bisa hidup.
Setiap hari kamu makan, engkau memilih apa yang kamu makan. Maka sebenar-benar hidup
adalah pilihan. Ikhtiar itu memilih. Kalau sudah terpilih itu takdir. Maka hidup
itu perputaran antara ikhtiar dan takdir. Pilih dan terpilih. Sadar maupun
tidak sadar. Napas yang dihirup itu juga pilihan. Hidup itu pilihan,
sebenar-benar hidup adalah pilihan. Ikhtiar itu memilih. Jika sudah terpilih
adalah takdir. Sebenar-benar hidup adalah memilih, pertukaran antara ikhtiar
dah takdir. Interaksi antara amal
perbuatan kita, maka di akhirat juga akan ada interaksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar