Senin, 29 Oktober 2018

MEMBANGUN KESADARAN DIRI DALAM BERFILSAFAT


Refleksi - Kuliah Prof. Marsigit
Atin Argianti (18709251001/ PM A)
Selasa, 18 September 2018

            Perkuliahan dimulai dengan diawali berdoa. Kemudian Pak Marsigit memberikan pertanyaan singkat sebanyak 20 butir. Tes tersebut dengan program nulisasi dan dan tugas komentar blog Pak Marsigit dengan ikhlas dalam hati dan pikiran sebagai tempat pertaubatan. Setelah itu, mahasiswa membuat satu pertanyaan bebas dibalik kertas kuis.
Pertanyaan tersebut antaranya dari Seftika yaitu Bagaimana mencapai pemikiran tingkat dewa? Pak Marsigit menjawab pertanyaan tersebut kerjakan pikiranmu dan pikirkanlah pekerjaanmu. Kerjakan pikiranmu itu setengah dan pikirkanlah pekerjaanmu itu setengah, keberdoalah itu juga setengah, terus menerus. Jadi, setengah tambah setengah tambah setengah sama dengan satu. Contoh: Pikirkan kuliahmu. Kamu wajib membayar? Pikirkan cara membayarnya. Yang kamu pikirkan disini cita-cita, pikiranmu itu master, jalani. Maka jalani pikiran dan memikirkan perjalanan. Jadi dalam filsafat 1/2 + 1/2 = 1. Bahayanya orang berfilsafat adalah kalau sudah sampai pada tahap jelas. Karena sudah tidak berpikir lagi. Jadi, filsafat itu kerjakan pikiranmu, pikirkanlah pekerjaanmu, dan berdoalah. Sebenar-benarnya filsafat adalah berpikir.
            Pertanyaan kedua dari Diana, yaitu What is the secret of happiness? Kemudian Pak Marsigit menjawab yang saya lihat, engkau adalah kualitas pertama yang bergantung mata saya. Jika saya katarak, saya bisa saja mengira nenek-nenek adalah gadis dan sebaliknya. Tapi di sebalik kamu itu engkau itu yang mana. Sekarang tunjukan pegang apapun dirimu, yang menunjukkan bahwa dirimu adalah yang engkau pegang itu. Ternyata semua orang itu adalah tidak adil terhadap dirinya sendiri. Kalau engkau katakan dirimu adalah kepalamu, lantas kakimu engkau anggap apa? Kalau kamu pegang tangan, kepalamu dimana? Semua orang tidak adil dengan dirinya sendiri. Tidak satupun di dunia ini yang bisa menyebut dirinya sendiri kecuali Tuhan. Manusia tidak bisa menyebutkan diri sendiri. Dari miliyar per semiliyar manusia tidak dapat mencapai keseluruhan. Engkau baru mampu menunjukkannya 1/10 saja engkau sudah berubah jadi tua. Maka dari kecakupan kebahagiaan, engkau tidak akan mungkin mencapai keseluruhan, yang benar-benar keseluruhan adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Masih dengan jawaban dari Pak Marsigit, kalau dari sisi waktu, filsafat itu profesional. Maka waktu itu bisa waktu panjang dan sempit. Waktu itu mengalir karena ada ruang, waktu itu benda, benda itu ruang, ruamg itu waktu. Sehingga kita mengalami perjalanan. Sebelum kita menunjukkan, kita akan berubah. Orang yang ilmunya tinggi orang yang mengaku tidak mengetahui segala sesuatu. Jangankan happiness. Engkau sendiri saja tidak bisa menunjuk dirimu, apalagi diriku. Kita sendiri tidak mengerti diri kita sendiri, maka pikiranmu, perasanmu, darahmu, tulangmu adalah kualitas berikutnya. Yang terlihat itu ikonik, wakil dari duniamu. Kamu mewakili dunia. Orang mencederai orang itu mencederai dunia, apalagi sampai membunuh. Berarti dia telah membuat kiamat suatu dunia.
Infinity grafe yang ditemukan Aristotles. Dunia kita sama besarnya dengan dunia ini. Kita mewakili dunia. Betapa hebatnya kita. Ingin mengetahui dunia itu langit dan bumi. Orang yang bodoh menggunakan alat yang sama untuk kondisi yang beda, sedangkan orang cerdas menggunakan alat sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika kita mengeleminasi mengambil hak berarti kita meruntuhkan dan membangun dunia. Jika kita kehilangan hak maka dunia kita runtuh.
Pertanyaan ketiga dari Agnes, yaitu Filsafat adalah diri kita sendiri, bagaimana agar kita mengerti diri kita sendiri? Pak Marsigit menjawab ntuk mengerti diri kita sendiri yaitu kerjakan pikiranmu, pikirkan pekerjaanmu. Doakan apa yang kamu kerjakan dan doakan apa yang kamu pikirkan. Silahkan tebarluaskan makna filsafat. Karena filsafat itu siapa saja, apa saja. Sampai ada orang mengatakan bahwa kitab suci cuma fiksi, jangan dengarkan lagi. Itu menuju sesat, pikiran yang sesat. Sebingung-bingung pikiran adalah di pikiran, jangan bingung di hati. Karena hati adalah dasar keyakinan kita. Karena filsafat itu diri kita sendiri. Sebingung-bingungnya ada di dalam pikiran kita sendiri. Filsafat diri kita sendiri, spiritualitas adalah diri kita tetapi belum cukup. Cara untuk membatasi dari godaan adalah dimulai dari pikiran kita sendiri sesuai dengan keyakinan.
Pertanyaan keempat dari Fany, bagaimana pandangan filsafat tentang menilai spiritualitas diri sendiri? Pertanyaan tersebut dijawab Pak Marsigit bahwa jika filsafat adalah dirimu, spiritualitas adalah dirimu. Jangan coba-coba menggambarkan spiritualitas dengan dunia. Karena dunia tidak mencukupi. Karena spiritualitas meliputi dunia dan akhirat. Bagaimana membatasi diri dari godaan? Mulai dari pikiran, pikiran saja bisa dipakai untuk membatasi godaan, apalagi muka. Menutupi daripada godaan setan tadi sesuai dengan keyakinannya, lepas daripada aliran mereka. Dalam agama Islam urusan dibagi dua, urusan dengan Tuhan dan urusan dengan manusia. Kemudian dibagi tiga. Manusia paling bawah derajatnya memiliki orientasi bangsa mulut, mata, telinga, perut, itu namanya manusia basar. Naik diatasnya manusia yang bisa beribadah mengerti Tuhan itu manusia insan. Tapi kalau manusia basar meningkat menjadi insan itu habluminallah. Manusia yang paling tinggi itu manusia yang habluminallah dan minannas. Habluminallah dan minannas itu manusia annas, manusia jejaring sistemik. Jejaring sistemik simboliknya itu jurnal. Jadi jurnal adalah lambang manusia jejaring sistemik yang paling tinggi.
Pertanyaan kelima dari Erma, bagaimana cara mencapai rendah hati yang sesungguhnya? Pak Marsigit menjawab untuk mencapai rendah hati yang sesungguhnya adalah berusaha dan berserah diri pada Tuhan. Tidak ada makhluk yang dapat mengalahkan setan selain pertolongan Tuhan. Sebenar-benarnya manusia adalah dalam keadaan berdoa. Setiap awalan selalu berdoa mengingat Tuhan, di tengah-tengah selalu istiqomah, di akhiri dengan dengan baik (khusnul qotimah). Esensi mengakhiri dengan baik adalah dengan rasa syukur. Padahal akhiran dalam filsafat adalah awalan.
Pertanyaan keenam dari Yuyun yaitu bagaimana cara mensinkronkan hati dan pikiran, mana yang didahulukan? Pak Marsigit menjawab menyingkronkan hati dan pikiran, hati roda yang di bawah, dan pikiran adalah roda atas. Setiap hari itu perasan kita dan merasakan pikiran kita. Teladannya adalah bumi mengelilingi matahari, tidak akan sampai pada tempat yang sama selama hidup. Disamping dia berputar pada porosnya, dia juga mengelilingi matahari. Engkau juga begitu. Disamping saya berputar pada porosnya (hati dan pikiran), makan sehat setiap hari, bangun tidur, melakukan hal demikian setiap hari tapi engkau tidak menyadarinya. Jadi sebenar-benar hidup itu adalah sesuai dengan lintasan bumi. Itu adalah contoh yang diberikan Tuhan. Kalau orang Yunani mengatakan hermenitika, orang Jawa mengatakan cokro manggilingan. Jadi perjalanan kita siklik dan linear digabung. Kalau orang Amerika mereka berpikir hidup linear, cari cari cari,buang buang buang. Sebenar-benar hidup itu adalah sesuai dengan perintah Tuhan. Pada dasarnya hidup adalah kontradiksi, dan yang menjadi obat dari penyakit-penyakit filsafat itu adalah sopan terhadap ruang dan waktu.
Pertanyaan terakhir dari Widhi, kalau misal masuk surga, apa yang dilakukan? Pak Marsigit menjawab bahwa urusan spiritual itu agama masing-masing. Cara mengetahui dengan prediksi, hidup itu pilihan. Tanpa memilih manusia tidak akan bisa hidup. Setiap hari kamu makan, engkau memilih apa yang kamu makan. Maka sebenar-benar hidup adalah pilihan. Ikhtiar itu memilih. Kalau sudah terpilih itu takdir. Maka hidup itu perputaran antara ikhtiar dan takdir. Pilih dan terpilih. Sadar maupun tidak sadar. Napas yang dihirup itu juga pilihan. Hidup itu pilihan, sebenar-benar hidup adalah pilihan. Ikhtiar itu memilih. Jika sudah terpilih adalah takdir. Sebenar-benar hidup adalah memilih, pertukaran antara ikhtiar dah takdir.  Interaksi antara amal perbuatan kita, maka di akhirat juga akan ada interaksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EUFOPHORIA BELAJAR FILSAFAT

Refleksi - Kuliah Prof. Marsigit Atin Argianti (18709251001/ PM A) Selasa, 2 Oktober 2018 Pak Marsigit dan Kami sama-sama meningka...